Kebenaran itu yang jelas bukan kesalahan. Akan tetapi
kebenaran dan kesalahan itu bukan seperti hitam dan putih, kebenaran belum
tentu benar dan kesalahan belum tentu salah. Sering orang berbuat salah demi
kebenaran dan sering juga orang membela kebenaran dengan cara yang salah.
Kebenaran itu selalu diajarkan orang tua pada anak-anaknya
dari kecil hingga dewasa agar selalu berada pada jalan yang benar. Lalu
bagaimana nasib anak yang tak mempunyai orang tua? Ataupun anak yang orang
tuanya tidak peduli pada kebenaran? Apakah mereka akan mengenal kebenaran? Atau
yang mereka kenal hanyalah kesalahan dan akan melakukan hal yang salah terus?
Kebenaran itu adalah proses
belajar. Orang yang dulunya berbuat salah atau sama sekali tidak mengenal
kebenaran bisa belajar menjadi benar. Tuhan telah memberikan hati nurani pada
kita sejak lahir, sehingga bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Karena itu, ketika melakukan kesalahan kita merasa gelisah. Akan tetapi tak
semua orang ketika tumbuh dewasa masih memperhatikan hati nuraninya. Hati
nurani dapat mati karena ambisi, iri hati, kesenangan sesaat, kemewahan dunia.
Lalu bagaimana bisa menjadi benar dari kita yang selalu
salah? Atau untuk bertahan pada kebenaran? Itu mudah. Kita bisa belajar
kebenaran dari agama, hukum yang berlaku, aturan yang ditaati, perilaku
masyarakat sehari-hari, bahkan dari orang yang berbuat salah pun kita bisa belajar kebenaran.Ada seseorang yang dalam hidupnya selalu melakukan kesalahan, entah karena dia tak pernah mengerti tentang kebenaran ataupun memang ditakdirkan berada pada jalan yang salah. Sehingga sering melanggar hukum yang berlaku bahkan melanggar agama. Namun ada setitik kebenaran di hatinya. Dia memiliki rasa kasih sayang dan peduli pada orang-orang terdekatnya. Apakah dia termasuk orang yang salah? Kalau dia tak salah, lalu siapa yang salah? Tak ada.. itu memang sudah takdir.
Ada juga orang yang sering melakukan kebenaran. Selalu
menaati aturan hukum juga taat pada agama. Tetapi tak punya mata hati, keji,
tak punya rasa kasih sayang. Kebaikan yang dilakukan hanya semata-mata karena
ingin dipandang. Apakah masih bisa orang seperti ini termasuk orang yang benar?
Tentu tidak.. Hatinya saja yang salah.
Namun memang semua butuh proses. Untuk bisa menjadi benar
butuh waktu, tak ada yang singkat. Selama waktu itu berjalan, belajar menjadi
benar tak ada yang salah dan tak ada kata terlambat :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar