Sabtu, 07 Desember 2013

Teruntuk Kamu yang Kutunggu

Heii kamu..

Yang namamu sudah tersanding denganku 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi
Ku tunggu kedatanganmu di kursi tunggu stasiun kereta senja
Hingga kini, belum kutahu siapa dirimu
Bisa jadi engkau akan datang dengan kereta mutiara dari Jakarta
Atau turangga dari Jogjakarta
Ataupun bisa jadi engkau adalah security stasiun yang dari kemarin mengamatiku

Bisa jadi pula engkau penjual koran dekat tiang yang mencuri perhatianku
Ataupun teman ngobrolku yang kasian melihatku bengong
Siapapun kamu
Ku ingin jika kau datang aku baik-baik saja..


Bisa jadi beberapa kali aku salah menyangka orang
Kukira engkau yang barusan datang dengan rombongan pelajar yang pulang dari lomba olimpiade science dan sempat duduk, mengajakku mengobrol ketika menunggu jemputan
Atau kukira engkau datang bersama rombongan musisi berambut gondrong dan berwajah tampan yang sempat menarik perhatianku hingga aku keliru menyangka itu dirimu
Akan tetapi
Siapapun kamu
Kuingin jika kau datang aku masih terjaga..

Bisa jadi aku salah menyangka kereta
Berlari menyambut kereta yang baru datang
Hingga terjatuh diujung anak tangga tingkat terakhir

Hingga dengkulku terluka
Dan ketika pintu kereta terbuka
Kuamati
Ternyata tidak satupun penumpang adalah kamu 
Tapi ku ingin ketika kau datang aku masih setia
Menunggu saat bertemu dengan kamu yang namanya tersanding denganku 50.000 sebelum penciptaan langit dan bumi

Selasa, 12 November 2013

Stand in The Corner



Do you ever stand in the corner? 
Some people think it is not comfort. It is not cool. It is not good. Many people underestimate people who stand in the corner. Because they love if be a playmaker or be popular. But i think it isn't always like that. 
Sometime stand in the corner is an excited experience. You can learn much from there. You can see all of people passing through, and notice their expression clearly. You can hear every single word they say. You can feel the wind whispering, so you know how the life rule, and you can be more wise..


By: salzbila

Senin, 05 Agustus 2013

Perguruan Tinggi favorit nggak selalu menjamin lho..

Haii guys, nggak kerasa yaa.. Kayak seminggu yang lalu kita baru aja masuk SMA, bangga waktu liat pengumuman Penerimaan Peserta Didik baru, bisa masuk SMA yang kita inginkan. Baru aja beberapa hari yang lalu kita ikut MOS, dimarahi kakak-kakak OSIS gara-gara atribut salah, warna pita kita nggak sama kayak temen-temen sekelas lainnya, dan lain-lain. Serasa baru aja kemaren jalan-jalan ke pantai bareng temen-temen, ngisi waktu libur semester have fun bareng, biar bisa jadi kelas yang kompak..

Tapi waktu tadi pagi aku masuk sekolah setelah libur semester yang panjaaang, suasananya udah beda banget. Temen-temen sekelas yang biasanya datang agak siang, tadi pada datang pagi biar bisa dapet bangku di depan, padahal hari-hari biasanya malah milih buat duduk di bangku paling belakang, biar nggak ditanya-tanya sama guru kimia yang killer. Aku masuk kelas yang biasanya super duper rame dan heboh, tadi malah sepi krik krik. Cuma beberapa anak ngobrol-ngobrol masalah Perguruan Tinggi.  Biasanya nih kalo udah bel istirahat, temen-temen pada lari ke laboratorium ekonomi, kantin. Hari ini malah jalan dengan langkah pasti  menuju mushola, melaksanakan ibadah sholat dhuha, berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar diberi ridho dan rahmat-Nya.

Emang guys, suasana pasti berbeda nggak kayak kemaren-kemaren, sekarang kita udah kelas 3 SMA.. KEELAASSS TIIGAA guys. Waktu dimana sangat menentukan masa depan kita. Ini bukan waktu buat main-main lagi, nggak bisa kita buat hura hura tralala terus. Kalo aku boleh bilang, kelas 3 SMA ini masa yang paling sulit. Kenapa aku bilang sulit? Kita disini masih remaja yang mau menuju kedewasaan, dimana masih labil, bingung menentukan mana yang baik untuk kita. Sama halnya dengan pilihan fakultas serta  Perguruan Tinggi nya, kebanyakan dari kita masih bingung dengan hal itu. Bingung karena kita juga masih belum tau betul potensi apakah yang ada dalam diri kita sehingga nggak tau harus fokus pada bidang apa. Memilih Perguruan Tinggi pun kadang kita lebih condong ikut teman-teman, dan gengsi sehingga ingin masuk ke Perguruan Tinggi yang gradenya bagus. Padahal Perguruan Tinggi dengan grade yang bagus belum tentu menjanjikan lho guys..

  
Begini, aku punya beberapa cerita yang pernah aku dengar dari orang-orang terdekatku..

Dulu aku punya tetangga, keluarga itu tergolong keluarga yang berpendidikan. Anak-anaknya selalu masuk fakultas favorit di Perguruan Tinggi ternama. Tetapi anaknya yang paling terakhir hanya melanjutkan sekolahnya di sekolah tari, karena dari kecil yang disukainya memang menari. Yahh kedua orang tuanya sempat agak ketir-ketir dengan masa depan anak ini. Tapi mereka maupun anaknya beranggapan bahwa sesuatu, apapun itu, jika dilakukan dengan rasa cinta pasti akan berbuah sukses. Alhasil, anaknya yang paling terakhir lebih sukses dibanding dengan kakak-kakaknya. Karena keahliannya menari tradisional bisa mengantarkan anak itu menjadi guru tari di Amerika.. Keren kaan guys..

Selain itu, papa mamaku pernah bercerita tentang karir teman-temannya. Papa mamaku punya teman, bisa dikatakan seorang profesor sukses, yang dulunya hanya alumni SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi yang gradenya tidak begitu bagus. Tapi karena Perguruan Tinggi tersebut satu kota dengan tempat tinggalnya, membuat dia bisa lebih survive karena dekat dengan orang tua dan semua akses yang dibutuhkan lebih mudah dijangkau, sehingga beliau lebih bisa bersungguh-sungguh dengan kuliahnya. Jika dibandingkan dengan teman-teman mama papaku yang alumni Perguruan Tinggi dengan grade bagus, beliau lebih sukses.

Malah banyak alumni dari Perguruan Tinggi ternama yang setelah lulus sulit mendapat kerja karena nilai Indeks prestasinya jelek. Di perguruan tinggi ternama, menurut cerita saudara-saudaraku sulit banget buat dapet nilai bagus, padahal sekarang ini hampir semua lowongan pekerjaan butuhin nilai IPK minimum 3. Sama halnya kayak jurusan-jurusan elit yang berisi orang-orang pintar guys, biasanya dosen-dosen disana sangat amat pelit nilai, sehingga alumninya malah kesulitan mencari kerja..


Maka dari itu guys, apapun yang kita pilih nanti, jangan karena gengsi dan bangga kalo bisa masuk fakultas favorit di Perguruan Tinggi ternama, karena Perguruan TInggi ternama tidak selalu menjanjikan. Pilihlah yang benar-benar kita suka dan kita yakin apabila masuk pada jurusan disuatu Perguruan Tinggi kita bisa menjalaninya dengan mudah. Just follow your heart and keep use our logic, dan jangan lupa selalu minta saran kepada kedua orang tua kita, karena emang beliau-beliau yang sejak kita kecil tau kemampuan dan potensi kita. Dan tak lupa, yang terakhir jangan lupa selalu meminta yang terbaik kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Apapun yang kita lakukan, meskipun itu sekuat tenaga, tidak akan bisa tercapai tanpa ridho Allah.. GOOD LUCK guys.. J

Kamis, 04 Juli 2013

Terima Kasih Untuk Mereka yang Super Hebat..

Mamaku pernah bertanya padaku, “Apa saja  yang kau lantunkan pada setiap doamu nak?”

Mendengar hal itu, aku hanya terdiam, lalu menjawab dengan tersenyum “Tentu saja kebaikan orang-orang yang aku sayangi..”

“Lalu.. Apa kamu tidak mendoakan dirimu sendiri?”

“Tentu saja iya. Tapi setelah semua orang yang aku sayangi selesai aku doakan..”

Yaa memang benar.. Setiap doaku selalu kulantunkan untuk orang-orang yang aku sayangi. Orang-orang yang selalu mendukungku apapun itu kondisiku, menerima dan selalu memaafkan segala kekurangan dan kesalahanku, setia mendengarkan keluh kesahku, tak pernah merasa rugi meskipun aku telah banyak merepotkan dan telah banyak berkorban untukku. Karena semuanya itu aku menyebut mereka orang-orang hebat!

Yang pertama tentu saja orang tuaku. Bagiku mereka mama dan papa yang paling hebat. Bagaimana tak hebat? Mereka telah membesarkan aku dan adekku tanpa pernah mengeluh. Papaku yang selalu sabar meskipun aku bandel  dan nakal, tak pernah berhenti membekaliku dengan kebaikan, mengajariku pelajaran sekolah bahkan nilai-nilai hidup. Papaku ini papa yang kuat dan tegar, jarang sekali sakit meskipun sering terkena hujan dan letih dengan tumpukan kerja di kantor. Aku juga tak pernah melihat beliau menangis. Bahkan sedikitpun tak pernah kudengar papa mengeluh, walaupun aku tahu begitu banyak beban hidupnya. Aku salut padamu, papa .

Setelah itu.. Orang yang paling spesial di hidupku, yaitu mamaku. Mengapa aku bilang orang paling spesial di hidupku? Mama bukan hanya menjadi sosok ibu bagiku, tapi juga sosok sahabat. Pernah tengah malam aku membangunkannya karena ingin mencari teman untuk berkeluh kesah. Mama bukan hanya menjadi ibu bagi kedua anaknya, tapi juga menjadi wanita karir. Yaahh.. meskipun aku sering bertengkar dengan mamaku, tapi hal yang paling aku takutkan adalah berbohong kepadanya. Tentu kalian tau, karena surga berada di telapak kaki ibu.

Yang kedua aku selalu mendoakan kesehatan dan kebaikan untuk kakek-kakek dan nenekku serta keluarga besarku lainnya. Terutama nenekku, yang sekarang sedang sakit. Jujur, aku sungguh merasa sangat sedih dan menyesal karena setelah 2 minggu nenekku sakit, aku baru sempat menjenguknya. Aku yang setiap hari mendapat telfon, sekarang tidak ada lagi. Saat ini nenekku hanya bisa terbaring lemas. Sungguh, aku kangen ditelfon nenek. Lekas sembuh nenek.. :’) Aku teringat.. sewaktu kecil kakek nenekku yang sering menggendongku berkeliling komplek rumah agar aku doyan makan. Kakekku yang selalu membangunkanku untuk sholat subuh berjamaah. Sampai sebesar ini mereka  masih cerewet menasihatiku ini itu, sampai hal yang terkecilpun, bahkan yang menurutku tak penting. Tapi semua itu karena mereka begitu perhatian padaku.. Terima kasih..  Bagiku mereka orang hebat!

Kakek dan nenekku sering bercerita bagaimana mereka berjuang untuk bisa sekolah dan bagaimana mereka membangkitkan semangat adik-adiknya untuk sekolah. Meskipun kakek dan nenekku anak petani. Untuk bisa sekolah banyak hal yang harus mereka lalui, diantaranya membantu orang berjualan nasi pecel, jalan kaki puluhan kilometer, kelaparan kehabisan uang dan lain-lain. Selain itu, cerita perjuangan mereka untuk membesarkan anak-anaknya juga sangat menginspirasi. Jika bukan karena mereka, tentu mama papaku juga tidak akan sekolah dan mendapatkan pendidikan tinggi. Bagiku mereka adalah pahlawan...

Yang ketiga adalah adekku yang paling aku sayang, karena memang cuma satu XD Yahh.. meskipun sering bertengkar, karena memang dia sangat menyebalkan, sulit diatur dan sangat suka berbuat usil. Tapiii meskipun begitu aku sadar dia punya rasa sayang yang besar  padaku. Sering kali ketika diajak mama papaku pergi makan tanpa aku, dia yang selalu mengingatkan “mbak bila gimana makannya dirumah? Jangan lupa dibelikan juga yaa..”. Pernah suatu ketika dia mendapatkan makanan enak, tapi tidak cepat dia makan karena menunggu aku pulang sekolah, meskipun dia sendiri kelaparan. So sweet adekku.. :’). Pernah juga sewaktu adekku masih kecil diajak keluar kota. Karena aku tidak ikut baru beberapa hari, dia langsung sakit. Mungkin karena telepati kebersamaan kami begitu kuat XD Maklum saja, sejak aku kelas 3 SD, dan adekku masih sangat kecil, kita berdua sering sekali ditinggal orang tua keluar kota. Jadi, kita sudah terbiasa kompak, saling mengisi, saling berbagi sejak kecil. Aku sayang kamu adekku.. :’) dan bagiku kamu anak hebat karena sudah mau berkorban demi rasa sayangmu bagi kakakmu ini.

Yang keempat, tentu saja sahabat-sahabatku. Sahabat akrab dan sahabat spesialku.. ups. Mereka tempatku berbagi, entah itu berbagi cerita, berbagi jawaban tugas ataupun ulangan, sampai berbagi bekal. Mereka yang memberikan warna berbeda dalam hidupku.. Terima kasih sudah mau hadir dalam hidupku.. Bagiku kalian orang hebat, karena sudah mau jadi sahabat orang sepertiku yang lola dan terkadang egois. Terutama kamu sahabat spesialku, aku tahu meskipun tanpa kamu sampaikan, sebenarnya bersamaku bukan hal yang menyenangkan. Namun hingga sekarang kamu masih bertahan. Untuk itu aku menilai kamu adalah laki-laki hebat! Yang tidak hanya menuruti rasa senang dan kemauan..

Kalian salah jika berkata aku sangat baik telah mendoakan mereka. Bukan aku yang sangat baik, tapi mereka. Bukan hanya baik, tapi juga hebat. Mereka motivatorku, inspiratorku, moodboosterku.  Aku yang sangat jahat jika tak mendoakan kebaikan mereka. Mereka yang telah menyayangiku sepenuhnya, seperti halnya aku menyayangi mereka. Tanpa mereka mungkin hidupku tidak akan seberuntung ini. Maafkan aku yang selama ini pasti menyusahkan, egois, tak bisa menjadi seperti yang kalian inginkan. Hanya doa yang bisa aku lakukan sebagai permintaan maafku.

Terima kasih :) Aku sangat beruntung dan bersyukur mempunyai mereka, orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku. Bagiku kalian orang-orang super hebat!! :D

Sabtu, 11 Mei 2013

My Sky


Pernahkah kamu menatap langit? Langit siang yang terang berganti langit malam yang kelam. Setiap hari semua itu selalu terjadi. Namun mungkin sedikit dari kita yang memperhatikannya.

Langit sama halnya seperti hidup kita yang warnanya berubah-ubah. Kadang biru, kadang jingga, kadang merah, bahkan hitam.
Tetapi siang tak selamanya terang, bisa berganti mendung. Ataupun malam tak selamnya gelap, terkadang terang karena sinar bulan dan bintang-bintang.. Seperti kesenangan yang bisa berubah menjadi kesedihan ataupun sebaliknya. Lalu mengapa kita harus bersedih ataupun terlalu bersenang-senang?

Seperti halnya langit, tiada satupun yang abadi. Kesedihan dan kesenangan hanyalah warna kehidupan..












Sabtu, 04 Mei 2013

Kebenaran


Kebenaran itu yang jelas bukan kesalahan. Akan tetapi kebenaran dan kesalahan itu bukan seperti hitam dan putih, kebenaran belum tentu benar dan kesalahan belum tentu salah. Sering orang berbuat salah demi kebenaran dan sering juga orang membela kebenaran dengan cara yang salah.

Kebenaran itu selalu diajarkan orang tua pada anak-anaknya dari kecil hingga dewasa agar selalu berada pada jalan yang benar. Lalu bagaimana nasib anak yang tak mempunyai orang tua? Ataupun anak yang orang tuanya tidak peduli pada kebenaran? Apakah mereka akan mengenal kebenaran? Atau yang mereka kenal hanyalah kesalahan dan akan melakukan hal yang salah terus?

Kebenaran itu adalah proses belajar. Orang yang dulunya berbuat salah atau sama sekali tidak mengenal kebenaran bisa belajar menjadi benar. Tuhan telah memberikan hati nurani pada kita sejak lahir, sehingga bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Karena itu, ketika melakukan kesalahan kita merasa gelisah. Akan tetapi tak semua orang ketika tumbuh dewasa masih memperhatikan hati nuraninya. Hati nurani dapat mati karena ambisi, iri hati, kesenangan sesaat, kemewahan dunia.

Lalu bagaimana bisa menjadi benar dari kita yang selalu salah? Atau untuk bertahan pada kebenaran? Itu mudah. Kita bisa belajar kebenaran dari agama, hukum yang berlaku, aturan yang ditaati, perilaku masyarakat sehari-hari, bahkan dari orang yang berbuat  salah pun kita bisa belajar kebenaran.

Ada seseorang yang dalam hidupnya selalu melakukan kesalahan, entah karena dia tak pernah mengerti tentang kebenaran ataupun memang ditakdirkan berada pada jalan yang salah. Sehingga sering melanggar hukum yang berlaku bahkan melanggar agama. Namun ada setitik kebenaran di hatinya. Dia memiliki rasa kasih sayang dan peduli pada orang-orang terdekatnya. Apakah dia termasuk orang yang salah? Kalau dia tak salah, lalu siapa yang salah? Tak ada.. itu memang sudah takdir.

Ada juga orang yang sering melakukan kebenaran. Selalu menaati aturan hukum juga taat pada agama. Tetapi tak punya mata hati, keji, tak punya rasa kasih sayang. Kebaikan yang dilakukan hanya semata-mata karena ingin dipandang. Apakah masih bisa orang seperti ini termasuk orang yang benar? Tentu tidak.. Hatinya saja yang salah.

Namun memang semua butuh proses. Untuk bisa menjadi benar butuh waktu, tak ada yang singkat. Selama waktu itu berjalan, belajar menjadi benar tak ada yang salah dan tak ada kata terlambat :)

Senin, 18 Februari 2013

I LOVE RAIN (1)



Aku lebih suka mengumpamakan kamu seperti hujan.
Datang tak terduga dan menghapus jejak-jejak silam yang kelam.
Membawa kesejukan di keringnya musim kemarau.
Dan saat kemarau, aku rindu akan hadirnya. Tak sabar menantikannya.
Seperti air hujan yang tak pernah berhenti mengalir, tak berujung, mengisi kekosongan.
Yaa, itulah kamu bagiku, hujan..